by

Kampar Tiadakan Balimau, Tarawih dan Bahkan Sholat idul Fitri

Spread the love
Sekda Kampar Drs YUsri memimpin rapat persiapan ramadhan di Bangkinang {14/4)

BANGKINANG (www.derapzone.com): Masyarakat Kampar yang biasanya menyambut Ramadhan dengan berbagai aktifitas, tampaknya harus gigit jari pada Ramadhan ini. Karena pemerintah Kabupaten Kampar sudah menegaskan, untuk meniadakan semua kegiatan yang berhubungan dengan Ramadhan tersebut, mulai dari kegiatan Balimau Kasai, Buka Puasa bersama, sholat Tarawih bahkan kemungkinan besar juga sholat Idul Fitri.
Larangan ini ditegaskan oleh Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto, melalui Sekretaris Daerah kabupaten Kampar Drs. Yusri, M.Si usai memimpin rapat bersama Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kampar dan Forkopimda, terkait peraturan tentang aktifitas dalam menghadapi Bulan Suci Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H di Bangkinang, Rabu (15/4).

Yusri menyatakan, kalau dipandang sekilas memang sangat berat, apalagi Ramadhan adalah bulan yang sudah dinantikan. Namun demi keselamatan bersama masyarakat, maka mau tidak mau aturan ini harus ditetapkan.
Selain itu aturan ini juga sudah ditetapkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, dengan Surat edaran No.6 Tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H di tengah Pandemi Wabah Covid-19.
Juga dengan   surat edaran dari Gubernur Riau Nomor 92/SE/2020 tentang Antisipasi Penyebaran Corona Virus Diseasa (COVID-19) dalam menghadapi Bulan Suci Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H di Provinsi Riau, serta Himbauan MUI Kabupaten Kampar Nomor: 01/MUI-K/III/2020 tentang Kewaspadaan dan Pencegahan Penularan Corona Virus Disease (COVID-19)
“Artinya ini memang sudah dibahas dan dipertimbangkan secara  matang, ‘jelas Yusri.
Dijelaskanya, aturan  ini adalah masyarakat tidak dibenarkan melakukan aktifitas mudik/pulang kampung dan tradisi menjelang Ramadhan seperti Kenduri, berdoa sebelum masuk bulan Ramadhan, mandi Balimau Kasai dan Ziarah Kubur yang sifatnya mengumpulkan orang banyak.

Selain itu umat Islam  meniadakan kegiatan Sahur Bersama dan Buka Puasa Bersama (ifthar jama’i) baik yang diadakan oleh lembaga pemerintah, swasta, ormas, Masjid, Mushalla maupun kelompok masyarakat tertentu serta meniadakan santapan Rohani Ramadhan dalam pelaksanaan Sholat Tarawih di Masjid/Mushalla, sedangkan Kajian Ramadhan akan disampaikan melalui Radio atau Media Sosial juga melaksanakan kegiatan Tilawah atau Tadarus Al-Qur’an di rumah masing-masing.

“Untuk Tilawah atau Tadarus Al-Qur’an di Masjid/Mushalla hanya dilaksanakan oleh beberapa orang yang ditetapkan oleh pengurus dengan memberlakukan protokol kesehatan”ujarnya.
Bukan hanya itu ,  kegiatan Peringatan Nuzul Al-Qur’an baik diadakan oleh Lembaga Pemerintah, Swasta, Ormas, Masjid, Mushalla maupun Kelompok Masyarakat tidak boleh dilaksanakan, termasuk   I’tikaf baik di Masjid maupun Mushalla.
“Bahkan untuk daerah dalam  kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi (zona merah) berdasarkan ketetapan Pemerintah sholat wajib lima waktu/rawatib, sholat jumat, sholat tarawih dan bahkan Idul Fitri ditiadakan” tegasnya.

Sedangkan dalam kawasan yang potensi penularannya rendah dan sedang (zona hijau dan kuning) berdasarkan ketetapan Pemerintah, maka diperbolehkan untuk melaksanakan sholat wajib lima waktu/rawatib, sholat jumat, sholat tarawih dan sholat Idul Fitri berjamaah di masjid/mushalla atau tempat umum lainnya dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan  dan memperhatikan hal-hal diantaranya, Imam sholat dianjurkan membaca surat-surat pendek dan membaca zikir-zikir singkat, Jarak shaf antar satu jamaah dengan jamaah lainnya minimal 1 (satu) meter dengan tetap memperhatikan lurusnya shaf, setiap orang menghindari kontak fisik baik bersalaman, berpelukan dan lain sebagainya dan kuga setiap orang dianjurkan sholat di masjid/mushalla terdekat dari kediamannya dan membawa sajadah masing-masing dari rumah dan tak lupa setiap orang wajib memakai masker.
Bagi yang terpapar COVID-19 baik berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Suspect COVID-19 dan Positif COVID-19 dilarang mengikuti sholat lima waktu/rawatib, sholat tarawih dan sholat Idul Fitri berjamaah di Masjid/Mushalla dan tempat umum lainnya.

“Camat Desa/Lurah, Ketua RW/RT, Pengurus masjid/mushalla, Ninik  Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai dan tokoh masyarakat saya minta  melakukan pengawasan, mengedukasi, menertibkan dan memberikan teguran terhadap anggota masyarakat yang melanggar hal-hal tersebut” tegasnya. (rilis/rdh)

Reporter : Rina Dianti Hasan
Editor : Rina Dianti Hasan
Email : bundasahrul@gmail.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed